Sabtu, 04 Februari 2012

Panser Anoa , Buatan Indoneia yang diminati Dunia



Tentara merupakan bagian penting dari pertahanan dan kekuatan militer. Unsur paling utama adalah personel pembawa senjata atau pasukan infanteri. Namun, tak kalah penting, dalam penyerangan, penyergapan, pengintaian maupun penyusupan, tentara mesti didukung oleh alat angkut personel taktis yakni kavaleri, yang saat ini umum dipakai sebagai sebutan untuk kekuatan tempur darat kendaraan berlapis baja. Salah satu jenis peralatan kavaleri dengan tugas utama mengangkut pasukan adalah panser.
Sejak 2003, PT Pindad di Bandung, Jawa Barat, telah memproduksi panser dengan kualitas yang membanggakan. Panser-panser Pindad telah dipesan banyak negara, bahkan digunakan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Panser Pindad paling canggih saat ini adalah Anoa, Armoured Personnel Carrier (APC) beroda 6. Namanya diambil dari mamalia khas Sulawesi. Kelahirannya disiapkan untuk mewujudkan kemandirian di bidang alutsista oleh Departemen Pertahanan dan PT Pindad. Tampilannya tidak kalah sangar dengan panser sejenis dari Eropa.
Panser ini mampu melaju hingga 90 kilometer per jam. Anoa tercepat di kelasnya. Hanya butuh delapan detik bagi Anoa untuk berakselerasi dari nol hingga 60 kilometer per jam. Bobot 12 ton tidak menghambat Anoa bergerak lincah di segala medan.
Anoa mampu melompati parit selebar 1 meter,  melahap tanjakan dengan kemiringan 45 derajat dan melintasi aneka rintangan. Suspensinya juga terbilang empuk jenis independent modular dan torsion bar. Selain itu, sistem navigasi generasi terbaru ditambah alat komunikasi anti jamming melengkapi interior panser ini. Anoa berbelok dengan menggerakkan sepasang roda depan dan sepasang roda tengah. Walau dengan ban terkoyak peluru sekalipun, Anoa masih bisa bergerak sejauh 80 kilometer.
Tubuh panser tidak bisa dibentuk dari sembarang baja. Anoa menggunakan baja khusus setebal 10 milimeter, kebal dari sebagian besar peluru. Tak hanya itu, Anoa kedap air sehingga mampu menyeberangi sungai. Persenjataan yang sudah terpasang adalah senapan mesin 7,62 mm dan 12,7 mm untuk varian infanteri dan Automatic Granade Launcher (AGL) 40 mm untuk varian kavaleri.
Panser unggulan Pindad ini dirancang dan dibangun sepenuhnya oleh ahli-ahli Indonesia. Satu tim perakit Pindad menyelesaikan satu panser dalam 33 hari. Kini empat tim bekerja bersamaan.
Sekedar diketahui, panser produksi Pindad memiliki kemampuan daya angkut sebanyak 12 orang dengan spesifikasi teknis yang sudah teruji di kondisi negara gurun seperti Lebanon oleh pasukan perdamaian PBB. “PBB sudah menggunakan kendaraan ini sejak awal 2009 di Lebanon sebanyak 8 unit,” jelas Pramadya Wisnu W., Manajer Pemasaran Pindad.
Panser ini mulai menjelajah ke pasar ekspor di tahun 2009 karena sudah memenuhi standar Nato di level III. Artinya tingkat ketahanan dari serangan lebih baik dari level II yang di produksi di China dan India. “Hanya peluru tertentu yang bisa menembusnya dan itupun dari jarak dekat,” kata Pramadya.
Pesanan telah datang dari banyak negara, mulai dari Malaysia dan Timor Leste hingga Nepal dan Afrika Selatan. Pesanan panser terbanyak datang dari Kerajaan Oman yang melakukan pengadaan panser sebanyak 200 unit untuk keperluan penjagaan ladang minyaknya. Banyaknya pesanan dari kerajaan Oman tersebut, mengakibatkan Pindad dan suplier merencanakan untuk memproduksi secara bertahap selama 4 tahun ke depan.
Malaysia ternyata juga kepincut dengan Panser Anoa. Negeri jiran itu telah memesan 30 unit pada tahun ini.
Negara lain yang juga ingin memiliki Anoa adalah Nepal, yang juga memesan 30 unit. Chili dan Portugal juga berminat, dan saat ini masih dalam tahap negosiasi. Selain Anoa, Pindad juga mendapat order kendaraan water cannon dari Timor Leste sebanyak 4 unit.
Panser bukan cuma satu-satunya produk Pindad yang laris. Ada juga pesanan peluru. Tak tanggung-tanggung, Amerika Serikat memesan 10 juta peluru untuk memenuhi kebutuhan tentaranya. Namun sayang, “Kami tidak mampu memproduksi sebanyak itu dalam kondisi waktu yang mereka minta,” kata Pramadya. Dari order 10 juta peluru, Pindad hanya bisa memenuhi 1 juta butir dengan nilai transaksi US$ 200.000.

Dinamika Pengadaan 100 Unit MBT Leopard 2A6

Indonesia akan membeli 100 unit Tank Leopard dan rencana pembelian tank ini telah melalui pengkajian teknis dan taktis di tingkat Mabes AD, Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan. Saat ini TNI akan terus memperbarui alat utama sistem senjata (alutsista), dan selain pembelian tank Leopard eks Belanda, pembelian tank buatan PT Pindad juga jadi pilihan untuk melengkapi alutsista TNI, hal tersebut disesuaikan dengan spesifikasi kebutuhan.
Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa proses pengadaan 100 unit main battle tank (MBT) Leopard 2A6 telah sesuai prosedur dan aturan yang berlaku, dan seluruh pengadaan alutsista telah merujuk pada kebutuhan pokok minimum. Dari segi kemampuan, Leopard 2A6 memiliki keunggulan jarak tembak dibandingkan dengan tank buatan Rusia yang kini dipakai Malaysia, PT-91M, yakni 6 km untuk Leopard dan 5 km untuk PT- 91M. Leopard juga mampu menyelam dalam air berkedalaman tak lebih dari empat meter dan mampu menembak siang dan malam.
Ada tiga jenis klasifikasi Tank yakni Tank jenis ringan, sedang, dan berat. Dan Tank Leopard ini merupakan Tank jenis berat yang Indonesia belum mampu membuat dan merakitnya, sehingga diharapkan dengan pembelian tank leopard ini ada peningkatan teknologi, bisa mentransfer teknologi dan suatu saat kita bisa membuat sendiri.
Saat ini Indonesia tidak mempunyai alustista yang modern dan memadai, maka dari itu Indonesia tidak mempunyai bargain position untuk melakukan tekanan-tekanan, karena negara-negara lain sudah memiliki kemodernan persenjataan. Disini bukan berarti perang, melainkan agar negara lain tidak mengangggap remeh dan mudah mengertak bangsa Indonesia. Untuk itu Tank berat seperti Leopard sudah menjadi kebutuhan pertahanan Indonesia.
Rencana pembelian tank Leopard ini telah menuai pro dan kontra dikalangan masyarakat, bahkan beberapa anggota Komisi I DPR tegas-tegas menolak rencana itu. DPR menilai spesifikasi tank Leopard tak cocok dengan kondisi medan Indonesia. Tank Leopard  yang berbobot sekitar 60 ton ini dianggap tidak bisa beroperasi dengan medan tempur Indonesia yang berhutan tropis, selain itu menurutnya akan mematikan industri strategis dalam negeri. Namun hal itu dibantah oleh Kemhan/TNI. Justru kita pilih Leopard karena kualitasnya paling bagus dan untuk ukuran tank kelas berat ini termasuk paling hebat karena mampu beroperasi dalam gelar medan berat sekalipun dan sudah dipakai oleh negara-negara maju seperti Singapura, Kanada dan hampir semua negara di Eropa.
Pembelian tank Leopard dari Belanda belum selesai dan masih dijajaki semua kemungkinan. Namun hal yang terpenting adalah bagaimana soal alih teknologi dari pembelian itu. Setiap pembelian alutsista harus disertai proses alih teknologi sehingga Indonesia tidak lagi ketergantungan kepada Negara lain bila suatu saat ada embargo. Selain itu urgensi pembelian MBT, juga dalam rangka mendorong kemandirian industri pertahanan sebagaimana tekad pemerintah.